kuliah

Peran Mahasiswa Untuk Pendidikan Indonesia

Di mata masyarakat secara umum, mahasiswa adalah agen perubahan sosial yang suara dan perannya sudah dapat didengar dan termasuk penting untuk masyarakat. Mahasiswa dipandang memiliki kemampuan intelektual dan kepekaan nalar yang rasional sehingga dianggap dapat memberikan perubahan dalam masyarakat dengan berkontribusi terhadap pendidikan dan sosial dalam masyarakat.

Mahasiswa adalah satu dari sekian banyak entitas dalam masyarakat yang dapat menjadi pemeran sekaligus penentu naik atau turunnya suatu kualitas pendidikan di Indonesia. Peranan mahasiswa bukan hanya dalam hal pendidikan tinggi yang kini tengah mereka emban, namun juga pendidikan dasar selama 12 tahun yang sebelumnya telah mereka lalui.

Pendidikan merupakan sebuah aspek penting dalam kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, kualitas dan karakter manusia tidak akan berkembang. Martabat bangsa juga dapat dilihat dari perkembangan pendidikan di dalam negara tersebut. Semakin besar angka kepekaan pendidikan dalam suatu negara, semakin naik pula kualitas dan karakter manusia di negara tersebut.

Kurangnya kepekaan dan keinginan untuk mengemban pendidikan membuat Bangsa Indonesia sampai sekarang masih harus terus berjuang untuk menggapai cita-citanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Bangsa ini pun seolah-olah masih dihantui oleh pembodohan pada masa penjajahan Belanda yang melarang masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang cukup dan berkualitas.

Pendidikan gratis dan merata untuk seluruh daerah kecil maupun besar di Indonesia nyatanya belum sepenuhnya tercapai. Pendidikan gratis dianggap hanyalah ucapan belaka karena masih ada sekolah-sekolah yang mengharuskan siswanya untuk membeli buku paket—yang seharusnya dipinjamkan oleh sekolah. Oknum-oknum di dalam badan pendidikan seolah-olah mempermainkan pentingnya sebuah pendidikan yang seharusnya seluruh masyarakat emban sejak dulu. Titik permasalahannya bukan hanya pada pemikiran masyarakat, kini juga pada pejabat pendidikan.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) partisipasi pendidikan formal di tahun 2016 memiliki peningkatan 0,39 untuk Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7-12 tahun menjadi 98,98; 0,20 untuk APS usia 13-15 tahun menjadi 94,79; dan 0,36 untuk APS usia 16-18 tahun menjadi 70,68. Ini menunjukkan angka kesadaran pendidikan perlahan mulai meningkat sedikit demi sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Pun demikian, partisipasi dan kualitas pendidikan seharusnya berjalan sama lurus. Namun anak-anak yang berada di daerah terpencil dengan akses jalan yang sulit belum tentu dapat merasakan nikmatnya memiliki pengetahuan dari pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Walaupun segelintir mahasiswa diidentikkan dengan sebuah demo menutut keadilan atau suatu hal lain yang dianggapnya penting, namun masih banyak pula mahasiswa yang turun ke lapangan untuk membantu proses anak-anak yang kurang beruntung yang belum bisa mendapatkan pendidikan ataupun yang tidak diizinkan oleh orang tuanya untuk mendapatkan pendidikan. Turun ke lapangan dalam hal ini bukanlah meneriakan orasi untuk keadilan dan kesetaraan pendidikan untuk seluruh lapisan masyarakat, namun yang terjun langsung ke masyarakat yang kurang beruntung tersebut. Sebuah peran sederhana namun sangat bermanfaat.

Dalam hal ini fungsi agen perubahan sosial yang dimelekat pada mahasiswa bukan hanya sebatas slogan ataupun omong kosong belaka. Sudah saatnya mahasiswa paham dan prihatin akan apa yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia yang mungkin terlihat baik juga nyaman untuk kalangan orang berada, namun menjadi bambu runcing untuk kalangan bawah.

Pengabdian masyarakat dalam membantu meningkatkan pendidikan dasar anak-anak hingga remaja adalah salah satu contoh dari banyak peran yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Tidak melulu harus memiliki dasar pendidikan tinggi sebagai pengajar, mahasiswa yang memiliki keinginan dan mampu untuk turun juga dapat melakukannya. Pelajaran-pelajaran dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung dapat dilakukan sebagai pelajaran awal. Itu selain untuk memudahkan pembelajaran juga dapat mengurangi angka buta huruf di Indonesia.

Selain pengabdian kepada masyarakat, diri mahasiswa sendiri juga harus memiliki peningkatan. Dengan mengenali potensi yang dimiliki diri sendiri dan mendalaminya, bukan tidak mungkin suatu saat mahasiswa dapat berprestasi dan menjadi ahli dalam bidangnya. Dengan lahirnya seorang ahli dalam suatu bidang, lahir pula sebuah harapan untuk menjadikan Indonesia memiliki sistem pendidikan yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dan daerah.

Indonesia butuh perubahan nyata dalam tindakan, bukan lagi wacana semata. Mahasiswa mau tidak mau diharuskan untuk mampu mewujudkan perubahan nyata yang dapat mengubah nasib Indonesia di kemudian hari.

Trixie Michella Putri

1107617097 – PGSD

Lahir di Bekasi tanggal 8 Mei 1999. Terlahir sebagai seorang perempuan dan merupakan anak kedua dari 3 bersaudara dan beragama Kristen Protestan. Di usia 5 tahun memulai sekolah sebagai siswa Taman Kanak-kanak dan menyelesaikan wajib belajar 12 tahun di tahun 2017. Dari kecil sudah memiliki hobi bernyanyi dan selalu mengikuti ekstrakulikuler paduan suara di sekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s