belajar

#3 – Cara Belajar

Halo, halo, halo, hai!

Berhubung gue sedang berniat untuk nulis sesuatu, maka terbitlah tulisan ini.

Jadi, pada kali ini gue akan membahas tentang cara belajar gue. Hah, kok cara belajar gue sih? Kenapa bukan cara belajar Mawapres UNJ? Berhubung blog ini adalah blog gue, jadi yang akan gue ceritain adalah cara belajar gue, dong? Lagipula, gue calon Mawapres (amin), jadi nggak ada salahnya sih buat share ginian. Iya, apalagi cewek selalu benar.

Sistem belajar gue adalah Sistem Kebut Sehari. Believe it or notI found it effective (for me, especially). Kenapa kebut sehari?

Gue adalah penganut paham “belajar kalau udah deket hari H baru masuk ke otak”, jadi belajar dari jauh-jauh hari adalah sebuah kesia-siaan yang bakal berujung bagi gue untuk belajar lagi. Nah, gue itu kadang di kelas kerjaannya ngelamun aja. Nggak pernah yang namanya 100% dengerin dosen ngejelasin. Kecuali kalau topik pembahasannya menurut gue asik atau gue paham materi itu. Kan enak tuh jadinya gue bisa nambah poin dengan ngacung tangan kalau dosen bilang, “ada yang mau menambahkan?” Anjay. Ambis.

Terus juga gue ini bocah yang males banget buat nyatet. Iya, kalau ada yang presentasi gue selalu nyatet judulnya. Tapi ya udah judulnya aja. Isinya paling di slide awal doang. Sisanya gue dengerin aja mereka ngomong apa. Dan sudah pasti, hanya beberapa bagian yang menarik aja yang tersimpan di otak gue, sisanya bye bye.

Karena hal yang seperti itu, jadilah gue bikin siasat untuk belajar dengan cara gue sendiri yang untuk gue cara ini 80% ampuh. 20% nya males ngelakuinnya.

  1. H-2 ujian atau kuis atau kawan-kawannya, mintalah power point ke temen-temen yang udah presentasi (atau yang materi presentasinya yang akan diuji). Pilihan lain adalah pinjem catetan temen dan foto catetan itu untuk disalin. Iya, salin.
  2. Setelah itu, ambillah selembar s/d dua lembar kertas atau yang gampang pake aja folio (inilah alasan mengapa folio di meja belajar gue ada sebundel).
  3. Materi ada, kertas ada, tinggal pensil. Iya, pensil. Gue kalau nulis catetan gitu emang selalu pakai pensil. Nggak tahu kenapa, nggak beralasan. Oh iya, jangan lupa hapusannya.
  4. Siapin juga meja belajar atau sesuatu yang datar dan enak untuk dipakai untuk nulis. Jangan nunduk atau sambil selonjoran di lantai. Just don’t.
  5. Udah selesai persiapan, mulailah salin atau rangkum materi. Singkat-singkat aja, dengan bahasa yang dipahamin. Seeenaknya ajalah.
  6. Dengerin lagu. Mungkin untuk beberapa orang, nyatet sambil dengerin lagu emang ganggu, tapi gue sih sangat recommend. Karena biasanya belajar sambil dengerin lagu itu lebih cepet masuknya. Pakai headset lebih enak. Tapi kalau nggak juga nggak masalah.
  7. Mau sambil dengerin lagu atau nggak, pastikan aja suasana saat lagi nyatet itu nggak berisik alias senyap. Kalau sambil dengerin lagu, ya suara lagu aja yang ada. Kalau nggak sambil dengerin lagu, ya jangan ada suara apapun.
  8. Kalau udah selesai, simpan kembali barang-barang yang tadi digunakan. Termasuk catetan yang udah ditulis. Pokoknya simpen aja deh. Apalagi kalau bikinnya udah malem dan udah ngantuk. Wadoh.
  9. Kalau itu malem, langsung tidur aja. Kalau itu siang, ya sama tidur aja. Bedanya, kalau selesai nulisnya malem, pagi-pagi bangun sebelum mandi, bacalah catetan itu. Setelah mandi dan sarapan, baca lagi. Di jalan kalau sempet, baca lagi. Sampai di kelas dan sebelum dosen bilang, “Ditaruh tasnya di depan”, tetep baca. Nah, kalau nulisnya siang, cuma tinggal tambahin aja sih setelah makan malem, baca aja semampunya. Kalau merasa nggak mampu, ya nggak usah.
  10. Ini optional sih. Kalau bener-bener nggak pede, simpen aja catetannya di kaos kaki. Atau dudukin. Atau injek. Terserahlah. Tapi jangan dibuka. Cukup tau aja di situ. Niscaya, abis itu langsung pede.
  11. Kalau udah selesai, nggak usah buka itu catetan. Simpen aja dengan baik dan benar dan rapi untuk digunakan di lain waktu.

Gimana? Ngeselin nggak? Atau berguna nggak? Berguna atau nggaknya sih tergantung diri masing-masing ya, sis. Kalau emang harus belajar dari jauh-jauh hari, ya lakukan. Kalau nggak mau belajar, ya silakan. Semua orang punya caranya masing-masing untuk belajar. Dan inilah cara gue.

Beberapa temen gue bilang gue kerajinan bikin kayak gituan. Emang sih terlihat kerajinan banget. PR juga kali nyatet kayak gituan. Tapi selama kurang lebih 2 tahun gue belajar dengan cara itu, gue nggak menemukan hambatan yang berarti.

Oh iya, cara belajar ini nggak gue gunakan waktu mau UAS dan UN matematika. Waktu itu dari 2 minggu sebelum UAS aja gue udah belajar intensif sama tutor les gue. Bahkan sampai bikin appointment setiap Sabtu gue ke tempat les yang jaraknya agak jauh dari rumah supaya bisa pendalaman lagi sama tutornya dan itu rutin dilakukan dari 2 minggu sebelum UAS sampai 2 hari sebelum UN. Seniat itu.

Mau bagaimanapun cara belajarnya, yang penting adalah doa. Eh, salah.

Ora et labora

Berdoa dan bekerja

Sekian, xx.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s